Details
Unduh Docx
Baca Lebih Lajut
Pemujaan terhadap Isis berkembang menjadi agama misteri di mana para inisiat mencari pengetahuan suci mengenai kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali. Inisiasi adalah prosesi yang sakral dan diatur secara cermat, mencakup pemurnian diri berupa pantangan dari semua daging insan-hewan, anggur, serta kemurnian diri yang ketat.Yang Mulia Cleopatra VII Philopator, Ratu Mesir, memiliki keterkaitan yang erat dengan Dewi Isis. Dalam beberapa teks sejarah, Ratu Cleopatra menyatakan diri-Nya sebagai reinkarnasi Isis, dan Ia secara resmi mengadopsi gelar Nea Isis (“Isis yang Baru”).Salah satu anggota Asosiasi Internasional Maha Guru Ching Hai (semuanya vegan), Chien-Ching, membagikan pengalaman batinnya tentang hubungan luar biasa antara Ratu Cleopatra dan Dewi Isis:Selama sesi meditasi global pada 20 Mei 2021, saya melihat, dalam sebuah visi batin saat meditasi, pengalaman suci masa kecil Cleopatra VII di Mesir kuno. Suatu hari, Cleopatra kecil, yang berusia sekitar tujuh tahun, tanpa sengaja terjatuh ke Sungai Nil. Dia memasuki sebuah alam Ilahi di mana seorang utusan Surgawi menuntun-Nya menuju sebuah kuil megah di alam astral Sungai Nil, yang memancarkan Cahaya keemasan. Putri kecil itu terpukau oleh kuil besar bergaya Mesir kuno yang misterius. Utusan itu berkata kepada-Nya, “Ini adalah wahyu Ilahi-Mu.” Dia melihat sekeliling, lalu menaiki tangga emas dengan takjub dan sukacita. Langkah demi langkah, Dia dengan hati-hati dan waspada memasuki pintu kuil Ilahi itu. Segala sesuatu di dalam kuil itu terbuat dari emas atau dihiasi dengan berbagai permata. Pemandangan itu begitu memukau. Bahkan istana tempat sang Putri kecil tinggal pun tak dapat menandinginya, sehingga semuanya terasa baru dan berbeda bagi-Nya.Saat ia menoleh ke sana kemari, tiba-tiba seorang Dewi muncul di hadapan-Nya! Rambut hitam panjang sang Dewi terurai seperti air terjun, dan tubuh-Nya yang keemasan tampak begitu indah. Dia mengenakan hiasan kepala-Nya, dengan liontin yang menjuntai di dahi-Nya, serta gaun malam yang pas di tubuh-Nya dan berkilau kemewahan. Ia perkenalkan diri sebagai Dewi Isis. Saya belum pernah mendengar tentang Dewi ini sebelumnya. Namun tiba-tiba terlintas dalam benakku bahwa Dia mengenakan gaun perak dan emas yang dipakai Maha Guru Ching Hai di konser “Go! Go! Go!”. Saya menyadari bahwa dua gaun bertali spaghetti itu adalah manifestasi dari Dewi Isis dari legenda Mesir kuno!Dewi Isis dikenal sebagai pelindung wanita, anak-anak, budak, kaum tertindas, para pendosa, serta yang telah wafat. Menurut legenda Mesir kuno, Cleopatra VII adalah inkarnasi Dewi Isis. Dan ternyata hal itu memang benar. Maha Guru Ching Hai bukan hanya perwujudan Dewi Isis, tetapi juga Cleopatra VII. Ketika Guru bernyanyi dengan mengenakan gaun Dewi Isis, Beliau terkadang merentangkan jubahnya dengan kedua tangan berpose seolah-olah sedang terbang. Itu melambangkan sayap pelindung Dewi Isis bagi semua makhluk! Salah satu penampilan Guru sebelumnya juga sangat menyerupai Dewi Isis, termasuk desain lekukan kain di sekitar garis leher serta gaya rambut yang tegak menyerupai takhta. Semua itu adalah petunjuk dari Ilahi mengenai identitas-Nya sendiri.Pada saat itu, Cleopatra kecil tanpa sadar memasuki tubuh keemasan Dewi Isis. Mereka menjadi satu, dan sosok yang telah menyatu itu lalu bertransformasi menjadi Tuhan laki-laki bertubuh emas, yang selanjutnya berubah menjadi Tuhan Yesus Kristus (vegetarian), lalu dengan khidmat menyatakan, “Aku akan memimpin umat-Ku menuju Kuil Cahaya.” Itu adalah suatu fenomena yang misterius sekaligus menakjubkan. Meskipun Ketiganya telah menyatu menjadi Satu, tubuh keemasan Tuhan Yesus tetap berbicara kepada Cleopatra kecil di samping-Nya, “Aku akan mengikuti jejakmu. (zaman Cleopatra sekitar 30 hingga 69 tahun sebelum Tuhan Yesus.) Aku akan mengikuti Jalan-Mu. Kita bertiga adalah Satu.” Artinya, Dewi Isis, Cleopatra VII, dan Tuhan Yesus – ketiganya adalah Satu! Visi itu begitu agung dan memancarkan cahaya. Meskipun tampak ada tiga sosok yang samar, mustahil untuk membedakan wujud masing-masing – namun pada saat yang sama, Mereka adalah Satu dan sama. Sungguh sulit diungkapkan dengan kata-kata!Mereka semua memberkati sang Putri kecil, yang saat itu berada dalam wujud fisik-Nya, dan berkata kepada-Nya, “Akan ada penderitaan yang sangat berat di sepanjang hidup-Mu, karena Engkau mewakili Dewi Isis dan kelak akan menjadi Tuhan Yesus. Kedua Cahaya-Mu akan menyinari umat manusia di dunia.” Saat Cahaya itu semakin terang dan kuat, sang Trinitas sepenuhnya menyatu menjadi Satu, lalu Tuhan di Surga bersabda dengan suara yang khidmat dan agung, “Eksodus juga adalah Aku (maksudnya Musa)! Telah lama aku mengawasi umat manusia di negeri ini! Sekarang mari kita lihat apa yang bisa dilakukan Gadis kecil ini kepada semua orang!” Kemudian, Mereka segera mengeluarkan Gadis kecil itu dari Tritunggal dan membiarkan-Nya berdiri sendiri. Bersama-sama, Dewi Isis dan Tuhan Yesus Kristus masa depan berkata kepada-Nya, “Engkau akan memuliakan Allah.” Kemudian sang Putri kecil secara alami mengerti cara duduk bersila untuk bermeditasi. Wajahnya tetap seperti gadis berusia tujuh tahun, namun tubuh-Nya menjadi dewasa seolah masa kanak-kanak dan dewasa-Nya menyatu.Setelah selesai bermeditasi, sang Putri kecil berdiri dan berkata, “Aku akan menyalurkan kasihku untuk memelihara tanah Mesir ini. Air Sungai Nil adalah Kasihku, yang mengalir tanpa henti setiap hari. Kasih semacam ini tidak pernah berhenti sejak awal mula waktu. Misi hidup-Ku adalah membantu umat-Ku untuk meraih kehidupan dan keadaan yang lebih baik. Aku akan melakukan yang terbaik dan jadikan kebahagiaan umat-Ku sebagai prioritas utama di segala yang Aku lakukan.” Kemudian, Yesus Kristus dan Dewi Isis menghilang di belakang-Nya. Cleopatra kecil pun kembali ke kesadaran manusianya. Kuil itu perlahan meredup menghilang di belakang-Nya, sementara sebuah tangan besar yang lembut perlahan mendorong dan mengantar sang Putri kecil keluar dari kuil. Dari Surga, sebuah suara bernubuat, Dia akan mengenakan “mahkota emas dan topeng Firaun.” Saat itu, tubuh fisik-Nya masih terendam di Sungai Nil. Tangan besar di bawah kaki-Nya mengangkat-Nya ke atas air menjaga-Nya tetap tegak. Saat tangan besar itu mengantar-Nya ke tepi, sang Putri kecil segera naik ke daratan. Dengan hati yang sangat takjub, Ia bertanya dalam batin, “Bagaimana mungkin ada wahyu Ilahi seperti ini?”











